KM. Serambi_Brangrea – Berkebalikan dengan harga sembako
seperti Bawang dan Cabai yang terus meroket, saat ini harga emas terjun bebas
di pasaran. Tentunya bagi penambang tradisional yang mengadu peruntungan lewat
tambang emas rakyat menjadi kian terpuruk. Beberapa waktu terakhir ini hasil
emas yang diperoleh penambang semakin minim bahkan tidak jarang tidak
mendapatkan hasil sama sekali.
Seperti dilansir oleh bisnis.news.viva.co.id bahwa ada dua
hal yang menyebabkan harga emas anjlok di pasaran internasional yaitu rencana
bank sentral Amerika,The Federal Reserves, untuk membeli kembali obligasi Negara.
hal ini menyebabkah emas kehilangan momentum dan para investor mengalihkan
portofolio mereka ke investasi lain. Yang kedua adalah adanya penurunan permintaan emas dari
India dan China, dua negara terbesar pengimpor emas. Pertumbuhan ekonomi yang
melambat di kedua negara tersebut membebani harga emas dunia.
Bagi kebanyakan masyarakat factor-faktor tersebut mungkin
agak sulit untuk difahami akan tetapi dampak yang diberikan oleh factor tersebut
sangat besar. Di kabupaten Sumbawa barat sendiri tidak sedikit masyarakatnya
yang berprofesi sebagai penambang emas tradisional. Hampir disetiap kecamatan terdapat
lokasi tambang rakyat. Disatu sisi tambang tradisional ini menjadi dilema
karena dampak pencemarannya terhadap lingkungan, namun disisi lain masyarakat
tidak ada pilihan lain untuk mencari pekerjaan. Jika mengandalkan hasil
pertanian saja maka dirasakan masih jauh dari cukup, kemudian untuk mencari
pekerjaan lain masih terbatas dengan keterampilan dan pendidikan yang dimiliki.
Terlihat di lokasi pengolahan batu emas atau dilokasi gelondong
yang ada di desa Tepas, Sepakat, dan Moteng sudah banyak yang tidak beroperasi
lagi bahkan ada yang sudah dipindahtangankan. Seperti dituturkan Daeng
penambang yang ada di Brang Rea bahwa ia harus memulangkan seluruh pekerjanya karena
sudah tidak mampu lagi membiayai operasional penambangan. Beberapa waktu lalu
hasil gelondong dan pengetongan yang dilakukan cukup baik akan tetapi harga
emas yang anjlok menyebabkan biaya produksi yang ia keluarkan tidak sebanding
dengan harga jual emas yang diperoleh. Ketika harga emas normal kita bisa
menjual dengan harga 340rb/gram akan tetapi saat ini harga jual yang berlaku adalah
250rb/gramnya. Betapa jauh selisih harga yang saya dapat sehingga membuat saya merasa
cukup depresi. Jangankan untuk membayar tenaga kerja untuk menutupi biaya
operasional saja masih jauh dari cukup tambah Daeng. Ia juga menuturkan bahwa
tidak sedikit rekan seprofesinya yang sudah angkat jangkar alias gulung tikar
karena bangkrut dalam usahanya.
Bukan hanya bagi penambang saja, masyarakat yang memanfaatkan jasa pegadaian pun terkena imbas anjloknya harga emas. Seperti dituturkan Pak Saiful warga Tapir ketika akan memperpanjang masa gadai emasnya di Pegadaian, ia tidak menyangka harus membayar jauh lebih besar dari biasanya. Biasanya setiap kali akan memperpanjang ia hanya membayar sebanyak Rp.123.000,- akan tetapi setelah penurunan harga emas ia diharuskan membayar Rp.300.000,-. Dijelaskan oleh petugas pegadaian bahwa konsumen diharuskan membayar lebih besar untuk menutupi harga taksiran yang jauh lebih tinggi dibandingkan harga emas yang anjlok saat itu. Mudah-mudahan saja stabilitas harga emas bisa cepat pulih seperti sedia kala agar perekonomian masyarakat bisa kembali stabil terlebih bagi penambang emas tradisional. (c_benk VH)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar